Ketua TP PKK Sampang Hadiri Sosialisasi RAN PASTI di Surabaya

Foto: Ketua TP PKK Sampang Hj. Mimin Slamet Junaidi bersama Ketua TP PKK Bangkalan dengan didampingi Kepala Bappelitbangda Sampang dan Kadinkes Sampang.

SURABAYA, Detikzone.net Ketua TP PKK Sampang Hj. Mimin Slamet Junaidi dengan didampingi Kepala Bappelitbangda Ir Hj. Umi Hanik Laila MM dan Kadinkes Sampang dr. Abdulloh Najich, Sp, MM. mengikuti Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting Indonesia (RAN PASTI) di Surabaya. Rabu (2/3/2022).

Kegiatan yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tersebut ditujukan untuk lebih memperkuat koordinasi dan kesepahaman tentang mekanisme tata kerja, pemantauan, pelaporan, evaluasi dan skenario pendanaan stunting di daerah.

Hadir pada kegiatan sosialisasi penurunan stunting diantaranya Kepala BKKBN Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K)., selaku Ketua Pelaksana Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Pusat, Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Dra. Maria Ernawati, M.M., serta para wakil ketua dari unsur Sekretariat Wakil Presiden, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Kemendagri, serta Kemenkes dan Bupati/Walikota se Jawa Timur.

Angka Stunting di Kabupaten Sampang sendiri berdasarkan data yang dirilis oleh BKKBN berada di zona hijau dengan angka prevalensi 17,2.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BKKBN Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyampaikan bahwa Jawa Timur menjadi kontributor utama dari penurunan stunting secara nasional jika semua kalangan bertekad dan berjuang bersama-sama untuk mengatasi persoalan tersebut.

Saya yakin Jawa Timur bisa karena pemerintah pusat secara serius menangani persoalan stunting dari sektor hulu hingga hilir. Peran pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten dan kota, kecamatan, kelurahan hingga desa harus kita gerakkan untuk menurunkan angka stunting di masyarakat,” tutur Hasto.

Tendesi penurunan angka stunting secara nasional menjadi 24, 4 persen di tahun 2021 setelah sebelumnya di 2019 sempat menyentuh angka 27,7 persen adalah suatu hal yang harus disyukuri di tengah masih berkecamuknya pandemi Covid-19.

Diharapkan, di tahun 2023 nanti trend penurunan angka stunting bisa berada di angka 16 persen dan akhirnya di tahun 2024 nanti bisa menurun lagi menjadi 14 persen. Target nasional angka stunting tersebut, tidak saja menjadi target dan cita-cita Presiden Joko Widodo saja  tetapi menjadi tekad semua pemangku kepentingan, termasuk di Jawa Timur.

Bagaimana dengan kondisi stunting di Jawa Timur?. Jawa Timur merupakan salah satu dari 12 provinsi prioritas yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di tanah air di 2022 ini. Yang menjadi “Pekerjaan rumah atau PR” untuk Jawa Timur berdasar Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 adalah bercokolnya empat kabupaten di kategori  “merah”. Ke empatnya adalah Bangkalan, Pamekasan, Bondowoso serta Lumajang. Penyematan status merah ini karena prevalensinya di atas 30 persen.

Ke 18 kabupaten dan kota yang berstatus “kuning” dengan prevalensi 20 hingga 30 persen, diantaranya Sumenep, Kota Surabaya, Kabupaten Malang, Kota Malang serta Nganjuk

Sementara 15 kabupaten berkategori hijau dengan prevalensi 10 sampai 20 persen seperti ; Ponorogo, Kabupaten Probolinggo, Trenggalek, dan Kota Batu.

Hanya ada satu daerah berstatus biru yakni Kota Mojokerto dengan pevalensi di bawah 10 persen, tepatnya 6,9 persen.

Tinggalkan Balasan