HukrimPeristiwa

Kasus Lansia Buta Jadi Tersangka Viral, Maulana Sebut Polres Pamekasan Panik

×

Kasus Lansia Buta Jadi Tersangka Viral, Maulana Sebut Polres Pamekasan Panik

Sebarkan artikel ini
Picsart 24 03 26 06 20 50 387
Foto: Nenek Bahriyah

Pamekasan, Detikzone.net- Setelah Kasus dugaan pemalsuan tanah di Polres Pamekasan  mencuat dan viral mengguncang jagad sosial dengan mentersangkakan Lansia buta bernama Bahriyah (61), tiba-tiba, sejumlah wartawan dihubungi Kasi Humas Polres Pamekasan agar merapat ke Mapolres. Salah satunya,  koordinator media partner tim pejuang keadilan media ini.

“Barusan wartawan saya di telepon Humas Pamekasan besok suruh merapat karena besok media di kumpulin di Pamekasan, tapi wartawanku  tidak saya bolehkan,” kata Z salah satu koordinator media partner Detikzone.net.

Ditanya apa maksud dan tujuan konkrit  Humas Polres Pamekasan menghubungi tim partner media agar merapat, pihaknya mengaku tidak paham.

“Embuh gak paham aku,” jelasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai kebenaran kabar tersebut, Kasi Humas Polres Pamekasan AKP Sri Sugiarto tidak menjawab konfirmasi tapi langsung menelepon melalui WhatsApp pribadinya.

Lantaran pewarta sedang mengemudi mobil, Humas Polres Pamekasan diminta untuk menghubungi kembali beberapa saat lagi. Akan tetapi hingga saat ini belum ada klarifikasi melalui balasan WhatsAp maupun telepon pribadi.

Merespon adanya hal itu, praktisi Hukum, Maulana, S.H, menyebut, hal itu sebagai wujud kepanikan Polres Pamekasan lantaran kasus lansia buta yang ditetapkan sebagai tersangka mendapat atensi dari berbagai kalangan.

“Saya nilai Polres Pamekasan sudah panik setelah kasus lansia buta yang dilaporkan seorang Bhayangkari ditetapkan sebagai tersangka ini viral, Polres Pamekasan ,” ujarnya. Selasa, 26/03/2024.

Mestinya, ujar Maulana, jika penetapan tersangka sesuai prosedur dan KUHAP, tidak seharusnya Polres Pamekasan panik.

“Jika sudah sesuai dengan prosedur maka tidak usah panik. Namun menurut pandangan saya, kasus tersebut masih kental perdatanya kok tiba-tiba diterapkan sebagai tersangka. Berdasarkan Perma Nomor 1 Tahun 1956 dan SEMA Nomor 4 Tahun 1980, yang memperbolehkan pengadilan menunda pemeriksaan perkara pidana menunggu putusan perkara perdata dalam hal terdapat sengketa pra yudisial,” ujarnya

Disisi lain, Maulana, S.H, bahkan memastikan bahwa Lansia bernama Bahriyah itu memang benar-benar buta.

“Siapapun yang tidak percaya beliau buta, saya akan antar ke rumahnya. Bahkan mengenai kebutaan Nenek Bahriyah itu sudah ada keterangan dokter,” tegas Maulana.

Alumnus IAIN Madura ini meyakini, nenek Lansia tak berdaya tersebut jadi korban sebuah kezaliman.

“Jika perempuan yang sudah lanjut usia  didzolimi tentu tuhan tidak akan tinggal diam, dan itu bisa jadi bumerang,” tandas Maulana.



Diwartakan sebelumnya,   Kasus dugaan pemalsuan tanah di Polres Pamekasan yang viral mengguncang jagad sosial dengan mentersangkakan Lansia buta bernama Bahriyah (61) warga Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Pamekasan terus menjadi kemelut dan menyita perhatian publik. Senin, 25/03/2024.

Bagaimana tidak, kasus tersebut dinilai sangat janggal dan terindikasi kuat ada ketidakberesan dalam proses hukum yang sedang ditangani Polres Pamekasan.

Sebab, Bahriyah merupakan pemilik sah tanah sesuai Leter C Nomor 2208, Blok IIa, Kelas V Luas 0,223 da dan bukti sertifikat  serta bukti pendukung lainnya bahkan terus menerus membayar pajak bangunan sejak mendapat hibah dari orang tuanya.

Namun celakanya, nenek tua yang kesehariannya hanya meraba-raba dan tak berdaya tersebut kini jadi korban dugaan  kriminalisasi oknum penyidik  Polres Pamekasan lantaran dijadikan sebagai tersangka. Minggu, 24/03/2024.

Lantas, setelah kasus lansia buta jadi tersangka viral, dengan penuh bangga Suhartatik (Titik) membuat status WhatsApp.

“Adoww banyak yang komen kok sekarang viral di tiktok gitu. Gak apa-apa saya viral di tiktok, ku dijelek jelekkan monggo dengan senang hati, tapi Allah maha adil kan, suatu saat kebenaran bakalan terungkap. Jangan tanya kenapa kok saya viral di tiktok ya, saya gak bakalan menjawab, la ngok congok dibik, apakah watakku seperti itu, orang yang dekat dan tahu karakter aku itulah jawabnya, titik itu Seperti apa,” demikian status istri polisi tersebut.

Berkenan dengan kasus nenek tua buta tersebut, Praktisi Hukum A. Effendi, S.H turut memberikan sentilan kritik.

A. Effendi menyebut oknum penyidik terlalu buru-buru dalam menetapkan tersangka bahkan terkesan tidak punya otak dan tidak punya hati nurani.

“Oknum penyidik yang mentersangkakan nenek buta pemilik tanah tersebut terkesan tidak punya otak karena saya menduga lebih mementingkan teman se-Profesinya dari pada asas keadilan,” sebut A. Effendi, S.H

Menurut pria berambut gondrong ini, penetapan tersangka tehadap nenek buta justru akan berbuntut panjang dan akan jadi bumerang untuk penyidiknya sendiri.

“Penyidik tidak boleh semena-mena dalam menentukan pasal apalagi menetapkan orang sebagai tersangka. Penyidik juga harus mempelajari berkas berkas dari terlapor dan data data lainnya.

“Juga harus di pahami, Penyidik itu tidak boleh bodoh. Penyidik harus pandai dan banyak belajar lagi tentang UU. Jangan serta- merta karena pelapor  memiliki sertifikat kemudian nenek buta tersebut dijadikan sebagai tersangka. Penyidik harus  jeli dan hati-hati. Pahami itu,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan