NasionalPolitik

Teddy Alfonso: Bansos Sangat Rawan Dipolitisasi, Sebaiknya Dicairkan Usai Pencoblosan

×

Teddy Alfonso: Bansos Sangat Rawan Dipolitisasi, Sebaiknya Dicairkan Usai Pencoblosan

Sebarkan artikel ini
IMG 20240202 WA0235

PADANG – Bantuan Sosial (Bansos) merupakan salah satu bentuk nyata kepedulian dan tanggung jawab sosial negara terhadap masyarakat yang membutuhkan. Dalam konteks ini, bantuan sosial bukan hanya sekadar program atau alokasi dana semata, melainkan sebuah upaya bersama untuk menciptakan keadilan sosial, mengurangi kesenjangan ekonomi, dan memperkuat daya tahan masyarakat. Bantuan sosial menjadi pilar kemanusiaan yang mampu mengubah kehidupan dan mengangkat martabat setiap individu.

Salah satu bentuk bantuan sosial yang paling umum adalah bantuan ekonomi. Program-program ini bertujuan untuk memberikan dukungan finansial kepada kelompok masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan atau terdampak secara ekonomi, seperti anak-anak yatim, lansia, dan keluarga kurang mampu. Bantuan ekonomi tidak hanya memberikan kelegaan jangka pendek, tetapi juga menciptakan peluang bagi penerima untuk meningkatkan taraf hidupnya melalui pendidikan dan pelatihan.

Selain itu, bantuan sosial juga mencakup bidang pendidikan. Program beasiswa dan bantuan pendidikan membuka pintu akses bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ini tidak hanya membantu mengurangi kesenjangan pendidikan, tetapi juga merangsang perkembangan sumber daya manusia yang berkualitas, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan masyarakat secara keseluruhan.

Bantuan sosial juga mencakup sektor kesehatan. Program kesehatan masyarakat, vaksinasi massal, dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang terjangkau membantu meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Sebuah masyarakat yang sehat memiliki potensi untuk menjadi lebih produktif, kreatif, dan berdaya saing.

Namun, keberhasilan bantuan sosial tidak hanya tergantung pada sumbangan materi atau dukungan finansial semata. Pentingnya penyelenggaraan program yang efektif, transparan, dan berkelanjutan sangat diperlukan. Melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program bantuan sosial akan memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar mencapai sasaran yang diinginkan.

Kegiatan Bansos akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan, apalagi momennya dinaikan saat menjelang pemilu 2024. Sejak Covid bansos memang sangat diperlukan. Pada tahun 2020, total jumlah bansos mencapai 498 triliun. Anggaran bansos ini, cenderung menurun pada tahun 2021 dan 2022 yaitu sebebar 468,2 triliun dan 460,6 triliun. Namun yang anehnya, tidak ada masalah serius seperti Covid, anggaran bansos 2024 hampir sama besar dengan tahun 2020 yaitu 496 triliun. Jumlah itu bertambah sekitar 20 triliun dibandingkan tahun 2023 yaitu sebesar 476 triliun. Anggaran bansos ini semuanya sudah disetujui oleh DPR.

Sebenarnya tidak menjadi permasalahan. Yang menjadi permasalahan pembagian BLT (Bantuan Tunai Langsung) sebesar Rp. 11,2 triliun dilakukan pada masa kampanye. Dan tentu menjadi permasalahan serius di tengah masyarakat. Banyak yang berpendapat pendistribusian menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 berpotensi bermuatan politis dan ada kecendrungan untuk dipolitisasi. Program populis seperti bansos maupun BLT ini, berpotensi untuk dapat mengubah opini dan pilihan politik masyarakat.

Untuk menghindari kecurigaan tersebut, Teddy Alfonso yang juga Calon Anggota DPR RI dari Partai Daerah Pemilihan Sumatera Barat 1, mengusulkan agar pembagian BLT atau Bansos ini dilakukan pasca pemilu.

“Bagaimanapun juga Bansos ini, adalah hak rakyat, setiap warga negara yang membutuhkan berhak memperolehnya. Oleh karena itu, janganlah dipolitisasi,” begitu ulas Teddy mengakhiri.

Tinggalkan Balasan