Praperadilan Oknum Guru Cabul Ditolak PN, PMII Parepare Desak Kejaksaan Tak Main main

jpg 20230407 122154 0000
Foto: Founder Ruang Aman Perempuan Parepare, naungan KOPRI PC PMII Kota Parepare, Ismayanti.

Makassar, Detikzone.net- Kasus memalukan Eks Residivis Sekaligus oknum guru cabul terhadap 3 siswanya nekat melakukan pra Peradilan. Namun berdasarkan hasil putusan, hakim pengadilan Parepare menolak pemohon pelaku cabul.

Berkenan dengan itu, Founder Ruang Aman Perempuan Parepare, Ismayanti sekaligus Ketua KOPRI PC PMII Kota Parepare berharap agar Kejaksaan Negeri Parepare tidak main main dan memberikan hukuman yang setimpal terhadap pelaku karena sudah merusak generasi penerus bangsa.

 “Kami memohon agar Kejaksaan Negeri Parepare tidak main main dan jangan sampai keliru dalam menentukan kebijakan. Berikan hukuman yang setimpal kepada tersangka. Apalagi pelaku merupakan residivis,” ujarnya.

“Kami pastikan akan selalu melakukan advokasi sampai keputusan mewujudkan kata keadilan,” sambungnya.

Menurutnya, kasus Eks residivis sekaligus oknum guru honorer di SMK Parepare tersebut  telah menuai kritik dari berbagai elemen.

“Karena perbuatan pencabulan terhadap 3 anak ini telah melukai semua masyarakat,” pungkasnya.

kembali terjadi di Provinsi sulsel Kasus dugaan tindak pidana perbuatan cabul terhadap 3 anak dibawah umur yang masih duduk dibangku sekolah SMK dipare pare .

Tindakan memalukan Pencabulan yang  diduga dilakukan oleh oknum Guru honorer di SMK Parpare inisial AU (45) sampai detik ini terkesan lemot didalami penyidik jaksa penuntut umum Parepare karena masih tahap P19.

Sementara itu, Kapala Seksi Intelejen Kejaksaan Negeri Parepare, Sugiharto, S.H saat dikonfrimasi media ini mengatakan, proses hukum di kejaksaan Negeri parepare tidak ada lambat atau menghambat perkara.

“Kami selalu komunikasi dengan penyidik yang telah ditentukan.
Jadi, kalau mengulur ngulur itu tidak ada,” dalihnya.

“Kami minta agar penyidik Polres Parepare agar melengkapi berkas yakni syarat formil dan materi. Formil dan materilnnya tidak dapat kami sampaikan. Setelah dilengkapi, JPU teliti lagi dalam waktu 14 hari,” imbuhnya.

AKBP Dr. H. Moh. Tahir, S.H.,M.H. LLM,
Kuasa Hukum termohon mengatakan, putusan ini perkaranya akan berlanjut dan Jaksa peneliti akan membuat tuntutan di proses persidangan.

Ia pun menjelaskan, dalam hal ini bukan kasus pemerkosaan, tetapi pelecehan.

“Hanya saja perlu penegasan saksi, jangan saksi yang saksi testimoni. Jika ada saksi yang bisa melihat atau merasakan atau bersama pada saat itu yang dibutuhkan di pengadilan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan