Proyek BLKK Terus Disorot, Ustad Sudi Disebut Sering Buat Masalah dan Pernah Ngamuk

20230317 112248 0000

Sumenep, Detikzone.net- Dugaan ketidak beresan Proyek Pembangunan BLKK di salah satu Ponpes yang ada di Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep terus menggelinding ke permukaan publik. Sabtu, 25/03/2023.

Tidak hanya disoal pengerjaannya, namun juga persoalan internal yang semakin mengerucut.

Sekedar diketahui, bangunan BLKK yang diduga dikerjakan asal-asalan tersebut menghabiskan dana fantastis diangka Rp 500 juta untuk bangunan fisik.

Berkaitan dengan itu, Bendahara inisial M menjelaskan bahwa sejak pencairan dana di Bank BRI Ambunten, ia tidak pernah dilibatkan.

Dirinya hanya dilibatkan saat tanda tangan demi mudahnya proses pencairan Bank BRI. Selebihnya tidak.

Bahkan anehnya, Ustad Sudi, Kepala Sekolah MA sekaligus ketua pelaksana pembangunan BLKK yang di bangun di Ponpes tersebut mau mendatangi rumah pengawas sekaligus menantu Ketua Lembaga saat malam waktu istirahat dengan menanyakan ongkos tukang.

“Pak sudi itu mau datang ke rumah saya sudah malam, saat saya mau tidur. Keperluannya hanya menanyakan uang untuk membayar ongkos tukang. Saya bilang ke Sudi kalau uang cash saya gak ada semua. Ada di bank,” tutur menantu Ketua Lembaga inisial W.

Dirinya pun menyebut Kepsek  Ustad Sudi tidak ada sopan santunnya.

“Setelah itu Ustad Sudi malah mendatangi Dhelem untuk bertemu dengan mertua saya dan mengatakan bahwa dirinya disuruh oleh saya, ini bagi saya sangat tidak sopan sekali karena saya diadu dengan mertua saya,” sebutnya.

Padahal sebelum itu, lanjut dia, kata bendaharanya sudah memakai uang sekolahan sebesar Rp 8 juta untuk bangunan BLK tersebut.

” Ini sudah ke beberapa kalinya sudi selalu bukin masalah. Dulu pernah ngamuk sampai mecahkan bangku sekolah,” lanjutnya.

Inisial W turut menyayangkan dana sebanyak itu tidak cukup untuk pembangunan BLKK.

“Permasalahanya apakah tidak cukup dana untuk bangunan BLKK itu, dikemanakan uang itu, kalau memang proyek itu harus ada kometmen 30℅ dari jumlah 500juta kan masih 350juta,” tambahnya.

Jika uang BLKK itu sebagian ada di dalam, pihaknya menyatakan bohong.

“Itu semua bohong dan fitnah terhadap keluarga pesantren, sekarang nama ponpes tercoreng gegara ulah dan prilaku Sudi,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya,Ustad Sudi, yang menjadi Kepala Sekolah sekaligus penanggung jawab proyek BLKK di Ponpes Al-Qodiriyah, desa Bunbarat, Kecamatan Rubaru, meminta agar pemberitaan mengenai dirinya yang mengajak carok Bendaharanya sendiri  serta mengenai ambisinya menguasai fulus proyek di Takedown karena disebutnya tidak benar. Kamis, 23/03/2023.

“Saya minta berita itu di Takedown pak karena berita itu tidak benar dan saya tidak pernah mengajak carok. Apalagi ingin menguasai dana proyek. Sekarang Bendaharanya ada dengan saya disini,” kata dia kepada Redaksi saat wartawan Detikzone.net menemuinya. Senin, 19/03.

Padahal, saat menghubungi Redaksi, Bendaharanya tidak ada bersamanya.

Ustad Sudi hanya berdua dengan wartawan media ini saat ditugas melakukan upaya konfirmasi lanjutan.

“Terus gimana ini pak,” pintanya.

Permintaan ustad Sudi itu pun  belum bisa digubris lantaran terkesan hanya membenarkan dirinya sendiri.

Berita yang tayang sudah sesuai keterangan narasumber dan didukung bukti percakapan.

Berdasarkan data investigasi, Bendahara hanya dilibatkan saat pencairan dana di Bank BRI. Selebihnya tidak.

Seakan dirinya benar, Ustad Sudi  mengirim bukti video saat duduk bersama Bendaharanya bahwa Bendaharanya tidak melapor ke media. Dalam video itu, sang bendahara tidak bergeming dan hanya diam.

Fakta, bendahara tidak melapor namun menjawab saat dikonfirmasi awak media.

Hal itu selaras dengan bukti dokumentasi saat dikonfirmasi detikzone. Dirinya takut, karena bukan siapa siapa.

Bahkan, Kepsek di PP Al-Qodiriyah yang disebut Ustad Sudi itu menganggap dirinya tidak ingin menguasai.

“Saya tidak ingin menguasai, saya hanya babu disini. Saya hanya ikuti perintah saja.,” dalihnya.

Disinggung lebih lanjut ihwal  Dana Pembanguna BLKK, Ustad Sudi berucap, sebagian dipegang dirinya dan sebagiannya lagi dipegang di dalam. Bahkan dirinya menyalahkan sang bendahara.

“Saya kan karo erosoro pak. Marena beremma mon bendahara la tak endhe’ Mon la mare tanda tangan. Cakna kiai soro lakoni padeng mendheng. ( Saya kan hanya pesuruh pak, ya gimana jika Bendahara tidak mau karena sudah tanda tangan. Kata kiai disuruh kerjakan, cukup cukupin,” katanya.

Ustad Sudi juga mengeluh karena dana pembangunan sebesar Rp 500 juta tidak cukup.

“Disini kan kerja, ya untuk dibayarkan ke tukang juga, bahan bahan di Madura kan mahal pak, harga semen membengkak, besi membengkak,” tukasnya.

Sementara itu, atas pernyataan Ustad Sudi yang mengatakan dana sebagian masuk ke dalam, Detikzone.net melakukan upaya konfirmasi untuk mengetahui kebenaran yang disampaikan.

Pihak internal PP Al-Qodirah menyebut bahwa pernyataan Sudi tersebut tidak benar. Hingga wartawan media ini pun dipanggil agar mengetahui secara pasti isu yang kebenarannya itu sangat diragukan.

Saat rapat di PP Al-Qodiriyah berlangsung hingga selesai, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan dana anggaran ihwal pembangunan proyek BLKK tersebut adalah Ustad Sudi.

Tinggalkan Balasan