Takmir Masjid Jangan Saingi Tuhan Adalah Tulisan Dengan Kualitas Keilmuan Rendah

20221105 125343 0000 e1667627771556

SUMENEP, Detikzone.net- Acara Roadrace yang digelar oleh panitia pelaksana merupakan bagian dari rangkaian untuk memperingati hari jadi Kota Sumenep yang ke-753, acaranya dilaksanakan pada hari Ahad, 30 Oktober 2022, bertempat di Alun-Alun Sumenep.

Kegiatan roadrace tersebut sempat viral karena telah dibubarkan oleh Polres Sumenep setelah adanya protes yang disampaikan oleh Ketua Takmir Masjid Jamik Kabupaten Sumenep yakni Aba Husin Satriawan.

Protes yang disampaikan oleh Ketua Takmir Masjid Jamik Kabupaten Sumenep ini tentu memiliki alasan yang sangat mendasar, yaitu karena sebelumnya telah ada peringatan sampai 3 kali dari Wakapolres Sumenep kepada panitia bahwa apabila menjelang adzan dhuhur agar kegiatan roadrace jeda sejenak, barulah kemudian bila adzan sudah selesai maka kegiatan roadrace dipersilahkan untuk dilanjutkan kembali.

Tapi menjelang adzan dhuhur, tepatnya saat shalawat di Masjid Jamik telah dikumandangkan, kegiatan roadrace masih tetap berlangsung, shalawat yang dibunyikan oleh Masjid Jamik yang menandakan akan di mulainya adzan dhuhur menjadi tidak terdengar akibat kalah volume dengan bunyi sepeda motor roadrace yang nyaring dan memekikkan telinga, karena tempat roadrace sendiri berdekatan dengan Masjid Jamik Kabupaten Sumenep.

Sebab itulah kemudian Aba Husin Satriawan selaku Ketua Takmir Masjid Jamik Kabupaten Sumenep mengambil tindakan tegas dengan datang langsung ke sirkuit yang menjadi rute roadrace dan menyampaikan protes kepada panitia pelaksana dan kepada Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep selaku dinas yang menaungi kegiatan roadrace ini.

Maka atas adanya protes dari Ketua Takmir Masjid Jamik Kabupaten Sumenep kemudian Bapak Kapolres Sumenep dan Bapak Wakapolres Sumenep memutuskan untuk menghentikan acara kegiatan roadrace tersebut.

Penulis sebagai anak mudah ini merasa malu kepada beliau Aba Husin Satriawan yang usianya sudah sepuh tapi masih peduli & Istiqomah dalam menjaga masjid utamanya ketika tiba waktunya Sholat Fardhu.

Beliau merasa memiliki tanggung jawab kepada Allah SWT sehingga memang sudah sepantasnya saat waktu menjelang sholat dhuhur tiba seharusnya kegiatan roadrace ini berhenti sejenak untuk menghormati adzan yang akan di kumandangkan di Masjid Jamik Kabupaten Sumenep.

Sebenarnya bila ditelaah lebih mendalam terhadap apa yang dilakukan oleh Aba Husin Satriawan selaku Ketua Takmir Masjid Jamik Kabupaten Sumenep telah menjalankan amanat Surat Edaran Bupati Sumenep Nomor 800/525/435.203.2/2021, tertanggal 31 Maret 2021, isinya adalah :

“Dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT terutama dalam melaksanakan ibadah Sholat Fardhu, maka dihimbau kepada seluruh ASN yang beragama Islam di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep, ketika suara adzan berkumandang menghentikan sementara segala bentuk aktivitas kerja termasuk kegiatan rapat untuk melaksanakan Sholat Fardhu tepat waktu. Demikian Surat Edaran ini untuk dipedomani dan dilaksanakan,” demikian bunyi surat Edaran Bupati Sumenep ini ditandatangani oleh Bapak Achmad Fauzi, SH., MH.

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya terhadap protes yang dilakukan oleh Aba Husin Satriawan sebagai Ketua Takmir Masjid Jamik Kabupaten Sumenep ini adalah bentuk ketegasan terhadap kegiatan roadrace yang diduga tidak menghormati saat menjelang adzan dhuhur karena kegiatan roadrace masih tetap berlangsung waktu itu.

Apabila berbicara soal akidah, maka sangat disayangkan jika ada pihak-pihak yang masih mencari pembenaran terhadap kegiatan roadrace yang tempat kegiatannya memang berdekatan dengan Masjid Jamik Kabupaten Sumenep kemudian pada saat menjelang adzan dhuhur dikumandangkan kegiatan roadrace tersebut masih berlangsung dengan suara bunyi sepeda motor yang memekikkan telinga.

Apalagi sempat beredar dibeberapa media tentang tulisan yang berjudul “Ta’mir Masjid Jangan Saingi Tuhan”, pada tulisan itu justru muncul kesan dugaan menjustifikasi dan dugaan hanya mencoba untuk mencari suatu pembenaran, maka atas dasar itu penulis memiliki pandangan bahwa tulisan pada kalimat “Ta’mir Masjid Jangan Saingi Tuhan” Adalah Tulisan Dengan Kualitas Keilmuan Rendah.

Alasan atau acuan lainnya karena sangat tidak logis atau sama sekali tidak masuk akal serta tidak memiliki landasan keilmuan yang mendukung apabila Takmir Masjid yang melakukan protes terhadap kegiatan roadrace yang masih berlangsung saat akan menjelang adzan dhuhur kemudian dianggap menyaingi tuhan.

Penulis ini memandang tulisan diatas dengan kualitas keilmuan rendah adalah bukan pada penulisnya, bukan kepada personnya (orangnya), tapi yang dipandang dengan kualitas keilmuan rendah adalah tulisannya atau dengan kata lain gagasan yang terkandung pada tulisan itu, kita ini kan adu gagasan yang harus didukung dengan dalil keilmuan dan data yang mumpuni, jika tidak maka tentu gagasan atau tulisan itu akan memiliki kualitas dengan keilmuan rendah.

Sementara itu, terhadap tulisan kami ini didukung oleh dalil keilmuan agama, salah satunya dalil hadist yang diriwayatkan oleh HR. Muslim, yang berbunyi :

“Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.” (HR. Muslim)

Selain didukung dengan keilmuan agama, tulisan kami ini juga didukung oleh Surat Edaran Bupati Sumenep yang menghimbau apabila adzan telah berkumandang agar menghentikan sementara segala bentuk aktivitas kerja untuk melaksanakan Sholat Fardhu tepat waktu.

Ditulis oleh : HERI SANTOSO
KETUA FORUM INTELEKTUAL MADURA
Akta Notaris Ira Anggraini, SH. Nomor : 7/2022, Ijin Kementerian Hukum & HAM Nomor : AHU-0010691.AH.01.07.TAHUN 2022.

Tinggalkan Balasan