Bu Min Resmi Membuka Advokasi Kesetaraan Gender di Pondok Pesantren 

20220920 130058 0000

Bawean, Detikzone.net- Aminatun Habibah atau Bu Min, Wakil Bupati Gresik resmi membuka kegiatan Advokasi Kesetaraan Gender Bagi Pondok Pesantren di Bawean, Selasa (20/09/2022). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan (KBPP), dan Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Gresik ini bertempat di Gedung Kantor PCNU Bawean.

Bu Min berharap, kegiatan ini bisa membantu bagi peserta yang terdiri dari para santri dan pengasuh, agar bisa menyimak secara seksama sehingga kesetaraan gender ini bisa diterapkan di Pondok Pesantren yang ada di Pulau Bawean.

“Sebenarnya, kesetaraan gender ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan yang saya tau di pondok pesantren sendiri sudah banyak yang dipraktekkan dan diperlihatkan tentang kesetaraan gender ini dalam setiap kegiatan yang ada di pesantren”, ungkapnya.

Dirinya mengaku, bahwa juga mempunyai pondok pesantren yang usianya sekitar 270 tahun. Dimana tingkat pendidikan yang ada didalamnya mulai dari TK hingga SLTA berkembang dengan baik. Hal ini menurutnya karena manajemen yang ada tentu memperhatikan tentang kesetaraan gender.

“Kemajuan yang terjadi dalam pondok pesantren kami bukan karena kepala sekolahnya, tetapi memang mengedepankan manajemen yang dilihat dari kualitas orangnya itu sendiri, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Jadi yang dianggap mampu maka dialah yang sepantasnya memegang jabatan itu”, terangnya.

Dan ia juga mengatakan, bahwa pemerintah kabupaten Gresik juga memiliki program Stanting. Dimana hal ini juga penting untuk menyesuaikan usia anak kapan seharusnya disekolahkan. Dan itu menentukan kualitas pendidikan sendiri disamping juga kesehatan anak.

“Kami juga punya program stanting, dimana program ini untuk menyesuaikan kapan seharusnya anak itu sekolah. Karena banyak yang terjadi belum cukup usia suda disekolahkan. Menurut para medis hal ini disebabkan karena banyaknya pernikahan dini. Karena ini berakibat terhadap pendidikan anak. Ketika anak terkena stanting maka akibatnya tidak hanya kesehatan tapi juga mental. Maka pondok pesantren ini juga menjadi penentu untuk pendidikan yang ada di Bawean”, bebernya.

Sementara, Kiai Ali Azhar, pemateri dalam kegiatan ini, menerangkan soal kesetaraan gender bahwa semua bentuk fisik dan kelamin yang sudah menjadi pemberian Allah SWT, tidak perlu lagi diperdebatkan. Seperti pada dasarnya perempuan bisa melahirkan, menstruasi dan menyusui.

“Yang perlu diluruskan adalah tentang stigma dalam Ponpes itu biasanya tentang perempuan harus dikebelangkangkan. Selain yang sudah menjadi kuadrat Allah, bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama. Bahkan presiden saja sudah pernah ada yang perempuan. Sekarang, mari bersanding sebagai khilafah fil ardh, bukan dikedepankan atau dibelakangkan”, terang Gus Ali, sapaan akrabnya.

Menurutnya, seperti dipisahkan antara laki-laki dan perempuan di pondok pesantren itu bukan bentuk diskriminasi gender. Dan itu hanya bentuk penyesuaian.

“Saya kira pesantren sudah selesai kalau soal itu. Kita hanya bisa berusaha untuk mendekati kebenaran. Dan yang maha benar itu hanya Allah. Sementara untuk soal keadilan, hal yang sudah beda atas pemberian Allah janganlah diperdebatkan, Yang beda biarkan beda tapi yang sama mari kita jalankan bersama-sama”, pungkasnya.

Tinggalkan Balasan