Dualisme Kepemimpinan di Smansa Ambal, Guru dan Murid Bingung Kepsek Sebenarnya

  • Bagikan
Foto: Gusty

Oelamasi, Detikzone.net-Akibat dualisme kepemimpinan di SMA Negeri I Amfoang Barat Laut (Smansa Ambal), Kabupaten Kupang, NTT, kini menuai polemik.

Demikian hal ini disampaikan oleh Gusty Haupunu selaku Ketua Solidaritas Pemuda Amfoang Barat Laut (Sufa Ambal) saat di konfirmasi media ini per pesan WhatsApp, Sabtu, 19 Februari 2022.

Menurut Gusty, sejak pergantian Kepala Sekolah (Kepsek) serentak di Kabupaten Kupang pada beberapa bulan lalu baginya pergantian Kepala Sekolah tersebut tidak sesuai prosedural. Misalkan pergantian Kepala Sekolah di SMA N I Ambal antara Esau Oematan, S.Pd yang digantikan oleh Yohanis B. Kikhau, S.Pi.

Aturan pergantian Kepsek harus melalui lelang jabatan dan mengikuti tes atau seleksi, namun yang terjadi tidak demikian,”terangnya.

Lanjut Gusty, akibat dari sistem pergantian Kepsek yang syarat dengan aroma inprosedural maka di SMA N I Ambal saat ini guru dan murid menjadi kebingungan siapa sebenarnya yang menjabat sebagai Kepsek mereka. Dari persoalan ini, maka pihak sekolah mengalami berbagai kendala seperti urusan administrasi, kesiswaan, anggaran dan lain sebagainya akibat dualisme kepemimpinan tersebut.

Keadaan ini penuh keprihatinan. Untuk itu, Gusty menegaskan bahwa pihak Dinas Pendidikan Provinsi NTT harus bersikap secara adil dan bijaksana terhadap mekanisme pengangkatan Kepsek di SMA N I Amfoang Barat Laut agar urusan guru, sekolah, kesiswaan dan administrasi lainnya yang berkaitan dengan sekolah tidak terhambat oleh persoalan diatas.

Selain itu, ia menegaskan agar setiap pengangkatan pimpinan di lembaga atau instansi apa saja harus dilakukan secara terbuka sehingga pihak instansi dan masyarakat tidak dirugikan. Apalagi mekanisme pengangkatan tidak sesuai jalurnya,”tegasnya

Kami berharap ini bisa dijelaskan secara baik oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, namun hingga saat ini belum ada kejelasan yang disampaikan secara terbuka bagi pihak sekolah dan masyarakat,”harapnya.

Apabila persoalan ini dibiarkan maka, tujuan lembaga sekolah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di Indonesia khususnya Amfoang Akan terhambat,”imbuhnya.

Hingga berita ini ditayangkan, Esau Oematan, S.Pd yang dikonfirmasi media ini per pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan, karena nomor WhatsAppnya tidak aktif.

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan