Perayaan Hari Valentine, GP Ambal Gelar Diskusi Bersama

Kupang, Detikzone.net- Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh kaum muda.

Pasalnya ini merupakan momen yang paling spesial menurut banyak kalangan.

Perayaan momen ini ditandai dengan saling tukar kado antar sesama pasangan. Tentunya budaya euforia tak bisa dipungkiri lagi.

Namun perayaan Hari Valentine kali ini, Gerakan Pemuda Amfoang Barat Laut (GP Ambal) yang merupakan organisasi lokal berbasiskan pemuda dan mahasiswa asal Kecamatan Amfoang Barat Laut merayakannya melalui diskusi bersama.

Hal ini disampaikan oleh Yeski Akulas selaku Koordinator diskusi Gp Ambal ketika ditemui media ini di Oesapa, Kota Kupang, NTT pada Senin, 14 Februari 2022.

Yeski mengatakan bahwa ini merupakan salah satu metode untuk menghimpun mahasiswa asal Amfoang Barat Laut agar terlibat aktif dalam diskusi-diskusi selanjutnya mengenai persoalan yang dialami oleh rakyat tertindas.

Ditengah gempuran sistem ekonomi politik kapitalisme mampu menyediakan berbagai macam kemewahan mulai dari boneka, cokelat, emas, hingga berlian sebagai kado spesial dalam menyambut Hari Valentine,”urainya.

Kaum muda-mudi selalu berlomba-lomba untuk membeli berbagai macam perhiasan diatas.

Tak sadar kalau uang yang dipakai adalah hasil dari keringat orangtua yang bekerja sebagai buruh, petani, dan nelayan yang penghasilannya pas-pasan untuk kebutuhan hidup,”katanya tegas.

Hal ini semakin diperparah dengan keinginan kaum muda yang semakin konsumtif diatas penderitaan orangtua atas eksploitasi yang dialaminya, jam kerja, upah murah, tenaga kerja murah menjadi politik rezim yang berkuasa hari ini.

Dalam momentum ini kaum muda perlu ada sikap politik yang revolusioner untuk merayakannya secara bersama seperti diskusi bersama, mimbar kerakyatan, puisi, agitasi propaganda di media maupun dengan selebaran mengenai persoalan yang sedang terjadi diberbagai daerah,”terangnya.

Sementara menurut Chindi Sinaga, salah satu anggota aktif Gp Ambal mengatakan bahwa perayaan Hari Valentine yang dilakukan secara individual adalah budaya kolot bagi kaum muda yang pada akhirnya terjerumus dalam budaya hedonisme.

 “Karena tugas utama kaum muda adalah belajar secara luas,”jelasnya.

Menurutnya, selagi kehidupan kita masih didominasi oleh sistem ekonomi politik kapitalisme, maka tidak ada Hari Kasih Sayang yang abadi, setara, dan demokratis.

Oleh karena itu momentum ini harus dijadikan sebagai spirit revolusioner bersama kaum tertindas untuk melawan sistem yang berkuasa hari ini,” tukasnya.

Pantauan media ini, sehabis diskusi bersama dilanjutkan dengan acara makan bersama sebagai wujud kasih sayang antar sesama mahasiswa yang hadir dalam agenda ini.

Tinggalkan Balasan