PKPOT Menyikapi Kebijakan yang Keliru Pada Tingkat Implementasi Subsidi

  • Bagikan

Malang, Detikzone.net- Mari kita tinjau kebelakang *revolusi hijau* di Indonesia dimulai pada masa orde baru melalui program Bimas (Bimbingan Massal) dan Panca Usaha Tani yang mendorong petani untuk (1) menggunakan bibit unggul

(2) Pemupukan
(3) Pemberantasan hama dan penyakit
(4) Pengairan dan
(5) Perbaikan cocok tanam.

Program Bimas kemudian berkembang menjadi program Intensifikasi Massal (Inmas). Melalui program Inmas ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan subsidi bibit unggul, pupuk, pestisida, dan teknologi lainnya.

Sejak Indonesia menjalankan program revolusi hijau, Indonesia mampu swasembada beras.

Dari uraian di atas dapat dilihat kesalahan fatalnya adalah pada point 3 dan 1 dimana point 3 pemberantasan hama, sangat menggangu ekosistem berkelanjutan karena memicu putusnya rantai ekosistem yang berakibat mutasi genetika OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan munculnya jenis OPT baru dari transfer media dari luar wilayah regional. Point 1 adalah bantuan bibit unggul yang berkatagori genjah dan bertonase tinggi. Namun bibit yang genjah bertonase tinggi adalah dari hasil rekayasa melibatkan sumber nuftah luar regional bahkan luar negeri.

Disini muncul perubahan metode bertani yang awalnya dilaukan secara alamiah, bergeser ke model instan dengan melibatkan pupuk kimia dan pembasmi hama (seharusnya adalah pengendali hama). Upaya memasukan varitas unggul dari luar menghancurkan nuftah lokal asli yang mempunyai nilai gizi lebih baik dan lebih stabil baik dari kwalitas daya simpan ataupun nilai nutrisi. Ditinggalkanya nuftah lokal memuluskan skema KAPITALISAI PERTANIAN dengan model perdagangan bebas mulai dari bibit, obat-obatan (racun) dan pupuk.

Sehingga sampai sekarang petani sangat tergantung pada pemakaian pupuk kimia terutama Urea dan ZA.

Dalam tulisan saya ini ingin mengajak petani makin cerdas dan makin bijaksana dalam bertani.

Sesungguhnya petani tidak perlu mengeluhkan pupuk subsidi, tetapi belajar bagaimana bertani tanpa pupuk kimia alias mandiri pupuk dg Pola keseimbangan agroekosystem.

KLINIK TANAMAN PKPOT ( Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu ), Karangduren, Pakisaji Malang.
Melayani bagi PETANI untuk :
1). Konsultasi kesehatan tanaman (OPT dan pencegahanya)
2). Konsultasi dan Pendampingan budidaya tanaman sehat ORGANIK
3). Pelatihan model tanaman organik
4). Pengembangan, cara produksi dan aplikasi nutrisi C-Nanodots
5). Pelayanan masyarakat PETANI ttg problematika lapangan (malnutrisi, observasi iklim mikro, peramalan out break hama penyakit).

Oleh : Prof. Hariyadi, Direktur PKPOT, Malang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan